11
Oct
09

Masih ada asa untuk Dieng

Salah satu dataran tertinggi Dieng

Salah satu dataran tertinggi Dieng

Saat masih kelas 3 SD saya pindah sekolah dan tempat tingal dari Magelang ke Wonosobo bersama adik dan mama saya supaya kami lebih dekat dengan eyang yang sedang sakit-sakitan kala itu. Yang saya ingat sewaktu saya masih kecil di kabupaten kecil ini adalah cukup banyak orang bule yang berkunjung, waktu itu teman-teman masa kecil saya mengajari saya untuk berkata “money, money, njaluk duite” setiap ketemu orang bule🙂. Kenangan lain yang saya ingat di kabupaten yang sejuk ini adalah ribuan burung pipit yang bertengger di kabel listrik di pusat kota untuk mencari kehangatan di malam hari. Rentetan burung pipit ini sepertinya hampir bisa ditemui di setiap sudut kabupaten yang pernah mendapat gelar Adipura Kencana ini. Namun seiring berjalannya waktu saya melihat jumlah burung pipit ini makin berkurang, sekarang bahkan saya hanya melihat beberapa ekor saja burung pipit yang masih meneruskan ‘tradisi’ bertengger di kabel listrik pada malam sampai pagi hari tersebut. Semakin berkurangnya jumlah burung yang kongkow tersebut bukan karena burung-burung muda tadi ogah menjalankan ‘adat istiadat’ nenek moyang mereka, melainkan karena degradasi lingkungan yang terjadi di seputaran Wonosobo termasuk dalam hal ini adalah dataran tinggi Dieng.

Sekalipun tanah Dieng merupakan tanah yang subur, para petani tetap menggunakan pupuk dalam bercocok tanam dan tampaknya pupuk yang digunakan sejak dulu bukanlah pupuk yang ‘ramah lingkungan’ sehingga berpengaruh terhadap spesies-spesies yang eksistensinya bergantung pada tanaman yang ada. Faktor ekonomi dan pertumbuhan penduduk ditambah akumulasi dari faktor-faktor lain yang sifatnya tidak memikirkan dampak lingkungan menyebabkan kawasan ini sempat kehilangan pesonanya.  Tidak heran jumlah burung-burung pipit tadi makin berkurang, agaknya pemerintah setempat lebih mementingkan pembukaan lahan untuk tanaman kentang yang menghasilkan uang yang tidak sedikit di daerah ini alih-alih melestarikan lingkungan untuk dimanfaatkan sebagai daerah wisata dan konservasi alam. Ketika saya SMP sudah jarang ada bule berkunjung, bahkan kala itu saya mendengar kabar dari teman bahwa kawasan Dieng mengalami kerusakan lingkungan yang parah. Hal tersebut membuat saya tidak pernah tertarik untuk mengunjungi Dieng, sampai pada akhirnya saya mengunjungi dataran tinggi tersebut untuk pertama kalinya di tahun 2005, padahal jarak antara Wonosobo dengan Dieng cuma 25 km! syet dah kemana aja gw selama ini😀

Ketertarikan saya untuk mengunjungi tempat ini dimulai sejak adanya usaha dari pemerintah setempat untuk

Jembatan darurat karena aspal jalan longsor

Jembatan darurat karena aspal jalan longsor

merekondisi wilayah tersebut. Ketika berkunjung pertama kali, saya masih menjumpai bukit-bukit gundul akibat pembukaan lahan untuk pertanian. Tapi ketika saya mengunjungi tempat ini terakhir kali pada saat lebaran hari pertama kemarin, tampak dari kejauhan sudah ada beberapa pohon yang di tanam di atas untuk menghindari erosi. Agaknya apa yang pernah saya baca di salah satu surat kabar asli Jogja bukanlah isapan jempol belaka, kesadaran masyarakat mulai muncul sejak beberapa meter jalanan aspal di pinggir tebing di jalan Wonosobo-Dieng sempat longsor beberapa bulan lalu yang menyebabkan tidak ada akses masuk maupun keluar wilayah ini. Kesadaran masyarakat lokal mungkin merupakan salah satu variabel penting bersama dengan komitmen pemerintah untuk menjaga kelestarian alam yang merupakan jenis warisan berharga bangsa ini, eman-eman khan mengingat pada jaman kolonial dulu semua kekayaan alam tersebut sangat dipuja-puja oleh bangsa lain.

Usaha pelestarian lingkungan yang sudah diusahakan sejak beberapa tahun belakangan ini tampaknya mulai membuahkan hasil, sekarang ini saya mulai melihat jumlah pengunjung domestik maupun mancanegara mulai berdatangan di tempat ini. Sudah beberapa kali saya diminta untuk menemani beberapa bikers untuk mengunjungi tempat ini, dan jumlah pengunjung domestik maupun mancanegara di wilayah ini juga terlihat semakin membaik. Kita semua tentu akan terus berharap akan  adanya upaya untuk menjaga kelestarian wilayah ini, hanya saja masih ada dua ancaman yang hingga kini masih menganggu pikiran saya. Ancaman kelestarian yang pertama adalah illegal logging dan legal-legalan logging yang tetap merajalela di kawasan tersebut, saya menemukan banyak sekali ‘pabrik’ kayu ini di Wonosobo. Melihat jumlah pepohonan yang semakin sedikit mau tidak mau membuat saya curiga akan legalitas tempat-tempat tersebut, sayangnya saya tidak bisa berbuat apa-apa😦 Yang kedua adalah masih adanya sejumlah warga yang melakukan pembakaran hutan untuk membuka lahan-lahan baru di sekitar gunung Sindoro. Sudah bukan rahasia lagi jika wilayah Sindoro dan Sumbing adalah wilayah penghasil tembakau yang besar, tidak heran di Kabupaten Temanggung terdapat pabrik rokok yang menampung tembakau dari daerah pegunungan tadi, kadang saya berpikir sebetulnya pemerintah memiliki banyak sekali cara untuk mencegah mengendalikan dan mengelola lingkungan agar tidak mengalami kerusakan yang semakin parah, namun kembali, tampaknya musuh utama dari semua usaha tersebut adalah pertumbuhan penduduk yang berujung pada masalah ekonomi.

Blue Hours di Batur

Blue Hours di Batur

Back to the ride issue, salah satu hal yang membuat saya tidak bosan untuk berkendara di daerah ini adalah jalanannya yang meliak-liuk, tanjakan yang lumayan untuk membuat mesin motor berteriak-teriak, dan lansekapnya yang luar biasa di sepanjang perjalanan yang saya yakin akan memuaskan ‘roh’ anda yang lapar pengalaman-pengalaman akan sesuatu yang bisa kita rasakan tapi sulit untuk kita ungkapkan tersebut. Berbeda dengan kebanyakan orang yang akan menganjurkan pengunjung untuk datang di pagi hari, saya menganjurkan anda yang ingin riding ke Dieng Plateau untuk berkunjung ke sana setelah jam 12 siang. Kenapa? karena di siang sampai sore hari hampir bisa dipastikan kabut yang menyelimuti sebagian besar wilayah ini akan muncul. Dan bukankah itu yang kita cari? riding di tengah kabut yang akan terasa basah saat menempel di wajah setelah dengan sengaja kita membuka kaca helm untuk melepas kepenatan, melihat bukit yang separuh badannya diselimuti kabut, menerjang kabut yang tebal yang membuat kita menyalakan lampu karena jarak pandang yang pendek, sungguh merupakan pengalaman yang menyenangkan, suasana akan menjadi lebih dramatis dengan munculnya kabut tersebut. Bahkan jika beruntung seperti saat ADV Rider mengadakan 1st rally, kita akan disuguhi sunset yang sangat dramatis karena dibumbui oleh kabut dan awan yang bergumul-gumul saat blue hours (FYI: blue hours biasa terjadi s/d 10 menit setelah matahari terbenam). Buat anda yang doyan off road saya anjurkan menempuh rute alternatif dari arah Kabupaten Batang (Pantura). Jika mengambil rute ini kita akan disuguhi pemandangan yang masih terjaga kelestariannya, maklum tempat ini dikelola oleh PT Perhutani. Walau tidak dalam jumlah yang masif, kita akan berkendara melewati hutan pinus yang mengingatkan saya akan gambar-gambar para rider yang menerobos hutan pinus Yellowstone National Park di AS yang memang memiliki karakter yang mirip dengan Dieng Plateau. Kita juga akan di bawa ke sebuah kebun teh yang memiliki lansekap yang unik di daerah ini (bukan kebun teh tambi) dengan jalannya yang berbahan baku batu kali dan tanah sehingga akan membuat tunggangan anda layaknya kuda jingkrak, namun itu saja belum cukup karena di belakang kebun teh ini tampak gunung yang dengan gagahnya menjulang tinggi dengan kabut di puncaknya (ingat lewat jam 12 iang). Setelah melewati hutan dengan jalannya yang ekstrim, kita akan

Salah seorang rekan terjatuh di tanjakan ekstrim

Salah seorang rekan terjatuh di tanjakan ekstrim

sampai di sebuah desa kecil. Saat 1st Rally ADV salah seorang rider sempat terjatuh di sini, namun penduduk sekitar yang melihat kejadian dengan sigap menolong (inilah salah satu hal yang bisa kita banggakan dari orang Indonesia). Setelah memasuki kawasan Batur anda akan disuguhi lansekap pertanian yang mungkin akan menjadi daerah pertanian terindah yang pernah anda lihat, lansekap pertanian yang menyerupai lansekap di wallpaper windows dalam keadaan default. Mayoritas trek off road Dieng bersifat medium, kecuali di beberapa spot yang memang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi yang saya sendiri belum berhasil menaklukkannya😀 Bahkan seorang rekan dari bekasi yang nyemplak pio harus terjatuh saat mencoba salah satu jalan off road yang menanjak, berbatu dan tidak memiliki landasan permukaan yang kuat saat riding terakhir kemarin. Btw saya belum menemukan spot untuk melihat sunrise di sini, cobalah tanyakan kepada para petugas di pos terdekat jika anda tertarik untuk melihatnya.

Melibas ketinggian dengan motor sport

Melibas ketinggian dengan motor sport

Buat yang tidak suka off road jangan kuatir, mayoritas jalanan di Dieng adalah aspal yang mulus yang dijamin akan memanjakan para penyemplak motor sport macam CBR dan Ninja. Setiap tikungan dan tanjakannya mudah ditebak, namun jangan sekali-kali menyalip ketika garis tengah jalan tidak putus-putus, karena bisa saja terjadi blindspot. Suhu di tempat ini berkisar 18-22 derajat celcius di siang hari dan khusus di bulan juli-agustus bisa mencapai titik nol di pagi hari. Terdapat beberapa obyek wisata di Dieng dari candi, kawah, theatre, sampai telaga. Mengenai pungutan biasanya kita akan membayar retribusi di Wonosobo bagian utara sebesar Rp2.000,- serta di pos masuk Dieng Rp12.000,- (paket yg terdiri dari 4 obyek wisata@3.000 rupiah). Jangan terlalu sering parkir, karena bisa jadi penduduk setempat mendadak mengaku sebagai tukang parkir dan meminta uang Rp2.000-Rp5.000 untuk retribusi (aselinya malak sech dengan dalih parkir :D). Jika anda mampir di daerah yang mayoritas berada di 2.000 m dpl ini, jangan lupa untuk icip-icip tempe kemul (mendoan khas wonosobo) dan kentang goreng dieng yang bisa anda temui di Kawah Sikidang, Carica (pepaya khas Dieng), Purwaceng (obat kuat:D) dan mie ongklok (tiap penjual mie ongklok punya citarasa tersendiri). Setelah riding selang beberapa jam dan menikmati udara yang sejuk/dingin, emang nggak ada kegiatan lain yang lebih enak untuk dilakukan selain makan, makan dan makan lagi, bukan begitu?….


15 Responses to “Masih ada asa untuk Dieng”


  1. 1 apdri
    October 11, 2009 at 9:39 am

    kalo ada tempat seperti Dieng di negara lain, mungkin udah dijadiin tempat wisata andalan… ada kereta gantung, dsb🙂

  2. 3 Mr_lOng'S
    October 11, 2009 at 10:25 am

    Mantaf bro ulasan ny,
    LANJUTKAN,!!

    smoga banyak Biker di luar/ manca negara sana membaca artikel anda n tertarik u/ dtng berkunjung ke indonesia..

  3. October 11, 2009 at 10:51 am

    wow!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    keren banget, pengen ke sana lagi. seems that you took the picture with your heart, wel. great shot bro!

  4. October 11, 2009 at 1:04 pm

    E…jus justru naik ke dieng kemarin 2 hari sebelum lebaran…
    Naik via wonosobo turun via Banjarnegara…
    E…e…guratan disk semakin dalam…
    Ga papa itu semua terbayar lunaz…ama segala pesona dieng.

  5. 9 Daus
    October 12, 2009 at 3:03 am

    wew kereeeen…..

  6. 11 chekers
    October 13, 2009 at 4:46 am

    Dieng…salah satu tempat yg ingin kukunjungi.

  7. October 16, 2009 at 6:05 pm

    Thanks for sharing bro..!

    blom pernah nih ke Dieng, hff…

    plan it.

  8. October 2, 2014 at 6:00 pm

    Every weekend i used to go to see this site, for the reason that
    i want enjoyment, since this this website conations actually nice
    funny information too.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Millestone

  • 324,707 Hits

Arsip

Sponsored By

1st Indonesian Kettle Cooked Potato Chips


%d bloggers like this: