09
Oct
09

Cantik nggak harus mahal

untitled6Jangan bingung dulu ama judul di atas, karena tulisan ini bukan tentang wanita atau kosmetik dan  nggak ada sangkut pautnya sama sekali dengan semua itu. Saya menggunakan kata “cantik” untuk mewakili pesona kawah ijen yang sampai saat ini masih menjadi salah satu petualangan terbaik saya sejauh ini. Kawah Ijen yang terletak di propinsi jawa timur sekitar 70 km dari Kab. Bondowoso dan 40 km dari arah Kab. Banyuwangi ini berada di ketinggian 2.386 km dpl. Akses untuk mencapai tempat ini tidaklah mudah, jalan menuju ke Paltuding yang merupakan starting point untuk treking ke kawah bukan jalan aspal yang mulus. Saat saya beserta dua orang rekan dari Adventure Rider yaitu DendyJ dan Erwe melakukan perjalanan ke tempat ini, kami disuguhi jalanan semi off road dan off road yang bukan untuk ‘dikonsumsi’ bagi mereka yang anti jalanan berlubang, berbatu-batu, dan berdebu. Belum lagi minimnya marka jalan yang tak ayal lagi membuat kami rentan tersesat, saat itu kami sempat kehilangan arah dan ketika kami bertemu penduduk sekitar untuk menanyakan arah, kami justru semakin tersesat! Tapi jangan kuatir,  seperti kata  Ray Bradbury “Half the fun of the travel is the esthetic of lostnessbetul?

Jika anda memiliki rencana untuk riding ke Kawah Ijen jangan lupa membawa jaket yang tebal dan sebanyak mungkin

Tanpa jaket memadai bukti kami innocent

Tanpa jaket memadai bukti kami innocent

karena suhu di daerah ini sangat dingin. Dari info yang saya dapat, suhu di Paltuding pada malam hari berkisar 2-8 derajat celcius! khususnya di bulan Juli-Agustus. Malangnya, waktu itu kami tidak memperhitungkan hal ini, dengan hanya berbekal jaket jeans dan satu jaket tipis, serta rompi riding yang menempel di badan, celana jeans serta matras sebagai alas tidur sudah menunjukkan betapa innocent-nya kami untuk menghadapi dinginnya malam di bulan juli itu. Sumpah dech! malam itu terasa sangat panjang, sekalipun kami sangat lelah karena menempuh perjalanan yang panjang, dinginnya suhu di malam hari membuat kami terjaga setiap beberapa menit tidur. Sekalipun kami sudah menyalakan api unggun tetap saja bagian yang tidak terkena radiasi api membuat kami tidak bisa memejamkan mata terlalu lama. Untuk saling memotivasi dalam menghadapi suhu yang membuat kami was-was kalau-kalau hypothermia menyerang, kami terkadang melontarkan candaan satu sama lain yang ternyata menjadi tidak lucu oleh karena dinginnya udara di Paltuding di malam yang dipenuhi bintang itu.

Di Paltuding sendiri terdapat penginapan yang seringkali penuh sehingga memaksa sebagian dari pengunjung untuk mendirikan tenda atau seperti kami ‘cukup’ dengan api unggun dan matras. Anda tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan kayu untuk dibakar, karena di paltuding terdapat warung 24 jam (seperti warung burjo dan indomie) yang menjual potongan kayu bakar. Cukup dengan uang Rp10.000,- kita akan mendapatkan kayu yang cukup untuk beberapa jam pakai. Perjalanan menuju Paltuding sendiri seperti yang sudah diungkapkan di atas berjarak sekitar 70 km dari Bondowoso dengan 40 kmnya adalah jalan makadam, jadi persiapkan motor anda dengan baik atau jika anda mengendarai mobil dan membawa anak-anak, jangan lupa bawa antimo😀 Saat hampir memasuki kawasan hutan lindung yang sebentar lagi akan dijadikan taman nasional ini, anda akan disuguhi pemandangan hutan hujan tropis di sisi kanan dan kiri. Begitu memasuki pos penjagaan, pengunjung diminta melapor dan menulis namanya dalam daftar pengunjung serta membayar Rp500,- per orang!!! Gile bener! cuma bayar gopek buat menikmati atraksi kelas dunia seperti ini! Untuk turis asing dikenai bayaran yang lebih tinggi, hanya saja saya tidak tahu berapa uang yang harus dikeluarkan wisatawan mancanegara untuk mendapatkan akses ke Paltuding.

Hutan Hujan Tropis

Hutan Hujan Tropis

Ketika jarum jam sudah berada di antara angka 3 dan 4 di pagi hari, kami memutuskan untuk mendaki ke kawah ijen untuk melihat sunrise. Untuk dapat sampai di Kawah Ijen, pengunjung harus berjalan kaki sejauh 3,2 km. Buat orang yang nggak pernah sekalipun naik gunung seperti saya, perjalanan ini sungguh menyiksa. Masalah utama yang bakal anda temui jika memutuskan mendaki di pagi buta adalah udaranya yang kelewat tipis. Hanya DendyJ yang kuat berjalan mendaki tanpa harus berhenti berkali-kali, sedangkan saya dan Erwe kewalahan setiap berjalan beberapa puluh meter saja, akhirnya DendyJ mendahului kami berdua supaya tidak terlambat mengambil gambar sunrise. Setelah beberapa kali berhenti padahal belum ada setengah jalan saya sempat menyerah dan memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan ke atas. Sementara Erwe melanjutkan perjalanannya, saya yang kala itu sangat kepayahan dan merasa pusing serta mual memilih untuk tidur di tengah jalan dengan tank bag sebagai bantalnya. Saat saya tertidur itulah terkadang saya mendengar suara-suara yang mencoba memotivasi saya yang tak lain dan tak bukan adalah para penambang belerang yang bolak-balik mendaki ke Kawah Ijen- Paltuding dengan membawa sebakul belerang! Saat saya tertidur (baca: setengah tertidur) itulah saya sempat memikirkan para penambang ini yang bekerja begitu kerasnya dari pagi-pagi buta untuk mendulang belerang yang satu kilonya hanya dihargai 600 Rupiah! Sungguh sebuah angka yang buat kebanyakan dari kita tidak layak untuk dikejar namun ternyata diperjuangkan oleh orang-orang di salah satu wilayah negara ini untuk menyambung hidup. Saya bahkan sempat berpikir bahwa tukang parkir di sekitar tempat saya tinggal mendapatkan uang lebih banyak dengan etos kerja yang sakarepe dewe. Tanpa bermaksud menyudutkan para tukang parkir, seringkali ketika saya sudah memberikan uang parkir kepada mereka, para tukang parkir itu langsung pergi tanpa membantu menarik motor saya atau membantu menghalau kendaraan sehingga saya bisa berputar ke jalur seberang, dan yang begini ini di Jogja sangat banyak boo… Sangat kontras jika dibandingkan dengan para penambang belerang tersebut yang selalu bekerja dengan penuh determinasi tinggi untuk dapat melalui medan dan membawa bebab yang berat.

IMG_8844

Ijen di pagi hari

Setelah langit mulai terang saya terbangun dari tidur pendek saya dan mendapati diri ternyata sudah di km 1,5. Udara yang segar dan kicauan burung yang terdengar di pepohonan yang lebat membuat saya merasa lebih sehat, setelah sejenak berdoa untuk memotivasi diri, saya memutuskan bertekad untuk sampai di atas. Kali ini saya berjalan mantap sampai di tujuan, seringkali saya bertemu para penambang yang turun dari atas dengan menopang satu bakul penuh belerang di kepala mereka sambil menjaga irama kaki mereka saat berjalan turun. Sampai di kilometer 3, jalanan sudah tidak mendaki lagi, pemandangan yang menakjubkan disertai bau belerang yang terbawa angin semakin melengkapi eksotisme kawasan ini yang dihuni oleh sekelompok primata yang melompat-lompat lincah di antara pepohonan. Betapa leganya ketika saya melihat sebuah danau berwarna hijau tosca dengan tekstur lansekap yang menawan ada di depan saya, di kejauhan saya bisa melihat pulau bali dan selat yang memisahkannya dengan pulau jawa. Pemandangan disini lebih dashyat daripada kawah di Bromo, tapi sayang kami gagal mendapatkan gambar sunrise secantik di gunung pananjakan bromo karena tertutup oleh awan pagi itu.

Sekitar 15 menit kemudian para pengunjung mulai berdatangan dari Paltuding, kebanyakan dari mereka adalah orang asing, saya hanya melihat beberapa orang berwajah indonesia di tengah puluhan bule yang berdatangan dari berbagai negara. Saya sempat menyapa seorang wanita tua Perancis dan sepasang kekasih bule yang entah berasal dari mana serta menanyakan kesan mereka, dan kata2 yang keluar dari mulut wanita perancis paruh baya itu adalah “Awesome!!!” sedangkan pasangan bule tadi tidak bisa berbahasa inggris, please dech ah :p  Sesaat saya merasa sedang berada di luar negeri sampai kemudian saya melihat para penambang belerang yang dengan antusias juga menyapa dan bercanda dengan para wisatawan asing yang kembali mengingatkan bahwa saya ada di Indonesia….ya Indonesia yang oleh dunia di kenal dengan negara dengan kekayaan alamnya yang sayangnya justru seringkali kurang dihargai oleh bangsa sendiri, sedih saya ketika melihat wajah-wajah lokal yang seolah innocent saat membuang sampah plastik di tengah hutan😦

Nyampe juga euuy

Nyampe juga euuy

Setelah puas di atas kamipun turun kembali dan kali ini kami melewati rute Paltuding-Banyuwangi yang juga menantang. Walau lebih dekat jalanan di sini sedikit lebih parah dibandingkan jalur Bondowoso-Paltuding, selain aspal yang rusak jalanan disini juga membuat motor kami melompat-lompat jika melaju agak kencang. Saya sempat melihat acara bernama “Place you should visit before you die” di metro TV, saya menyarankan anda memasukkan Kawah Ijen di dalam daftar itu dan nikmatilah “Yang terbaik yang kami (Indonesia) miliki”😀


25 Responses to “Cantik nggak harus mahal”


  1. October 9, 2009 at 10:44 pm

    hmm . . . bersyukurlah bro bisa ke tempat2 ini . . . pengenbbanget euuyy..ayo sebar terus mas Pouwel virus2 turing mu he he hehe . . . selamat atas blog ini

    welcome to the wordpress family:mrgreen:

  2. 3 Lao2x
    October 10, 2009 at 12:15 am

    Wih, mantap juga ijen yah. Bener, di lokasi2 eksotis gitu malah banyakan bulenya yg datang. Na, orang Indonesianya pada kemana nih?
    Pakde Bradbury itu siapa bro? Saya suka sama quotenya. Kl gak nyasar gak asik memang.😛

    • 4 dpouwel
      October 10, 2009 at 2:24 am

      Orang indonesianya pada ngeluh ama jalannya bro, sempat baca di salah satu media yg minta jalannya dibikin mulus (ane sech ga setuju, takut kalo banyak pengunjung jadi banyak sampah kek di bromo)……Nggak ngerti juga siapa itu brad, nggak sengaja nemu quotenya di google🙂

  3. 5 Mr_lOng'S
    October 10, 2009 at 8:44 am

    Mantaf ulasan ny bro,
    Detail bngz ampe2 yg baca jdi kebawa dlm alur cerita yg di sajikan..
    se7 bro,
    jlnan ny jgn di buat mulus
    krn tantangan ny jdi ga ada n rasa Puas yg d dpt dr Eksotis ny pemandangan alam jdi brkurang..

  4. 7 apdri
    October 11, 2009 at 9:06 am

    peta ane di sini kurang lengkap eiy (peta mudik telkomsel)…
    kalo Paltuding itu ke banyuwangi dulu lalu kembali ke arah barat, atau ke bondowoso dulu lalu ke timur…

  5. 9 atlet
    October 13, 2009 at 2:47 pm

    Wah… saya sudah 5 kali lewat paltuding, 1 kali dari bondowoso dan 4 kali dari dari Banyuwangi. Tapi naik ke ijen cuma 2 kali aja. Emang jalan yang dari banyuwangi cukup terjal dan menanjak. Bahkan teman saya yang boncengan naik vega r waktu naik kepaltuding, motor jadi berbalik arah gara-gara ngelindas batu yang besar2 dari aspal yang bolong itu hehehe..
    Yang bikin kaget ternyata kami sempat papasan dengan Honda odesey ..weleh..weleh apa gak takut hancur tuh kolong mobilnya😀
    Kalau dari ijen yang duiingin itu siangnya bisa ke arah belawan, disana ada air terjun dan pemandian air panas, juga ada perkebunan strobery milik ptpn di sana. Lumayan kan abis capek + kedinginan di ijen trus mandi air panas sambil makan strobery😀

    • 10 dpouwel
      October 13, 2009 at 5:55 pm

      wah tinggal di jatim ya bro? beruntung di jatim banyak tempat adventure……..saya lupa kalo ada air terjun itu😀

      wah sayang banget odisey euuy buat begituan🙂

    • 11 piksen
      October 17, 2009 at 5:35 am

      @ Atlet
      Kok lewat aja bro atlet? Latihan pisik yah, biar jadi atlet go internasional. hehe😀
      Oh iya, Chris John biasanya latihan pisiknya di daerah Licin (jalan ke paltuding dari Banyuwangi). Jangan2 elu temen latiannya dia ye? Hehe😀

      @ Pouwel
      Kalo vega r kaya gitu, klo pake piksen pigimane bro?
      agak sanyang piksennya nih klo dipake off road bgituan.

      Bro, klo di Jogja adventurenya kemana aje?

  6. 13 atlet
    October 16, 2009 at 3:50 am

    Saya tinggal di banyuwangi bro. Tapi kalau adventure keliling banyuwangi malah lebih banyak bro depouwel😀

  7. 15 piksen
    October 17, 2009 at 5:21 am

    Bagus bgt nih kawah ijen.
    Kalo diliat dari udara (lewat pesawat/google map) terlihat kawah besar berwarna hijau tosca di ujung timur jawa.

    Kalo menuju ke TKP-nya, wonderful. Gue beberapa kali nyampe tuh puncak, tapi cuman satu kali berhasil turun ke kawahnya. Gila jalan kebawah ngeri banget, menanjak & batu semua. Belum lagi klo ada asap belerang yg terhirup dg intensitas tinggi, menyesakkan dada & mbuat hidung sakit.

    Biasanya, kalo pagi asapnya gak begitu banyak & gak mobal (kemana-mana red), kita bisa turun. Tapi kalo menjelang siang sampe sore asapnya banyak & mobal, tidak disarankan untuk turun, cukup liat dari atas aja.

    Bro turingnya keren2 tempatnya, bisa dijadiin referensi nih.

    Btw, mongtor kita sama neh, piksen. Hehe😀 (Gak penting banget ya :P)

    • October 17, 2009 at 6:43 pm

      nice info bro, moga2 berguna buat yg lain🙂

      pake piksennya aja gpp lagi, justru piksen lumayan mendukung coz ringan, jadi kalo kepeleset nggak gampang jatuh……piksen tangguh kok😉

  8. 17 funkademics
    October 20, 2009 at 4:56 am

    belum sempat kesampaian hiks

  9. 19 vee
    October 28, 2009 at 2:13 pm

    Ga pnya nomor kontak, penginapan2 yg ada di paltuding mas???

  10. 21 joe
    November 11, 2009 at 12:05 am

    mantap broo….
    waktu ksna ada kendaraan umum dari sempol ke paltuding g?
    aku mau ksna naek kendaraan umum.

  11. December 3, 2009 at 10:30 am

    ASLIIII KEREEEEEEENNNNNNNN…….!!!!!!

  12. 24 hermant 4zzury
    April 6, 2010 at 10:11 am

    thanks ya infonya minggu ne q px rencana ke ijen ma tmen2 do’a in mga2 g da halangan

  13. June 19, 2010 at 10:19 am

    putu2nya kurang banyak bro.. ^_^
    ah, jadi pengen kesana… beli tenda dulu ah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Millestone

  • 324,707 Hits

Arsip

Sponsored By

1st Indonesian Kettle Cooked Potato Chips


%d bloggers like this: