Pada suatu hari bos sekaligus mentor saya bercerita tentang pengalamannya dalam menjalankan bisnis, pada periode tahun 90-an bos saya ini melihat beberapa karyawan yang hanya duduk-duduk menyaksikan karyawan lainnya mencuci mobil pelanggan. Tanpa pikir panjang si bos langsung turun tangan membantu para karyawan yang bekerja tadi, sontak saja para karyawan yang duduk-duduk langsung keki sehingga akhirnya ikut membantu mencuci mobil. Di hari yang lain bos yang dikenal sebagai salah satu pengusaha papan atas di Jogja ini melihat lantai ruangan yang kotor dan tidak ada seorang karyawan yang peduli akan hal tersebut, tanpa basa basi si bos menyapu sendiri ruangan tadi sementara para karyawan yang terlanjur kalah set hanya bisa mengalihkan pandangan karena malu.
Leading by example dan egaliter, sifat seperti itulah yang coba diajarkan bos kepada saya. Alih-alih memerintah karyawan untuk melakukan ini itu sambil menunjukkan kekuasaannya, seorang pemimpin harus bisa dijadikan panutan melalui inisiatif dan tindakan-tindakannya. Cerita tersebut coba saya resapi dan terapkan dalam pekerjaan saya, sebagai contoh setiap kali saya ingin meja dan kursi di ruangan luar dipindahkan ke ruangan dalam saya tidak akan serta merta memerintah bawahan dengan menunjuk meja tadi kemudian menunjuk ruangan dalam dengan gaya nge-bos-i namun saya coba berkata “Tolong bantu saya untuk mindahin meja ini ke dalam” sambil tentunya tetap melakukan apa yang sudah saya katakan (Red: ikut memindahkan meja meskipun ada yang menawari untuk menggantikan) dan ternyata selain pekerjaan segera terselesaikan, ada bonus lain berupa respek dari para karyawan, voila!.
Bos saya juga menanamkan sebuah prinsip yang diyakininya benar yaitu bahwa untuk bisa menjadi seorang jenderal yang hebat terlebih dulu dia harus menjadi seorang prajurit yang hebat. Itulah sebabnya bos saya ini sangat menghargai pimpinan-pimpinan yang memulai karier dari dasar piramida dalam struktur organisasi. Sebuah pelajaran yang berharga dan semoga bermanfaat bagi yang membaca…..






sangat jarang type seperti ini
kebanyakan tiran dan ortodox
http://setia1heri.wordpress.com/2012/01/13/kritik-iklan-t…j-ladies-first/
tapi susah kalao karyawan’e ndableg…bukannya sungkan malah do ngece, “bar iki omahku sisan yo mas…”
karang yo cah bar lulus.