Feeds:
Posts
Comments

Cross Country: Bedakah

Saat mencoba jalur sundoro pertama kali

Sehari sebelum saya menghadiri acara resepsi pernikahan beberapa waktu lalu saya menyempatkan diri untuk mencoba salah satu dari dua jalur di lereng sundoro yang cukup membuat saya penasaran. Jalur yang pertama adalah jalur off road menuju hutan sundoro, jalur ini sempat saya coba beberapa bulan lalu sejauh beberapa ratus meter ketika kabutnya sangat tebal, kali ini saya hanya mencobanya sekitar 1 km dan bernisiatif turun kembali untuk mencoba jalur yang satu lagi karena jalan menuju hutan ini saya anggap kurang safety jika dilalui sendirian. Selain tanah merah yang licin dan saya yakini akan berubah menjadi lumpur ketika hujan, lansekap jalan ini juga cukup terjal sehingga memaksa saya untuk menjelajahinya di lain kesempatan bersama dengan teman. Akhirnya saya mencoba jalur kedua yang ternyata adalah jalur menuju desa bernama Bedakah.

Baca Selengkapnya….

Pasar Ngasem

Selain Tugu, Jogja masih memiliki banyak tempat untuk kita jalan-jalan atau hunting. Kali ini saya akan membawa brader n sis jalan-jalan ke Pasar Ngasem dan Taman Sari :D Kedua tempat ini letaknya bersebelahan jadi kalo mlampah-mlampah (jalan-jalan) di Taman Sari coba aja sekalian tengok hingar bingar Pasar Ngasem, begitu pula sebaliknya kalau sedang lihat-lihat binatang yang diperdagangkan di Pasar yang terletak di jalan Ngasem nggak ada salahnya ngintip ke Taman Sari. Pasar Ngasem ternyata sudah ada sejak abad 18, pasar ini lebih dikenal sebagai pasar burung karena memang sejak dahulu kala dagangan utamanya adalah burung. Usut punya usut, ternyata pada djaman dahoeloe memelihara burung adalah salah satu cara untuk mengukur status sosial seseorang selain memiliki kuda dan keris. Burung yang dijadikan sebagai pengukur status sosial pada jaman itu adalah burung perkutut, seperti halnya motor yang bermacam-macam kelasnya burung  juga dibagi dalam kelas-kelas tersendiri menurut suaranya. Semakin bagus suaranya semakin mahal, semakin mahal berarti semakin prestige.

Baca Selengkapnya….

Tugu Jogja

Tugu Djogja -yg belakang- :mrgreen:

Saya rasa banyak di antara pembaca yang sudah mengenal salah satu landmark tertua dan paling terkenal di kota Jogja ini. Setiap kali saya melihat foto-foto dari para pelancong yang bepergian ke Jogja yang banyak beredar di Facebook maupun blog pribadi, Tugu Jogja selalu menjadi salah satu tempat untuk bernarsis ria. Kadang-kadang saya mendengar guyonan bahwa: belum ke Jogja kalo nggak ada foto di Tugu Jogja sebagai bukti otentik :) Di siang hari, aktivitas di seputar Tugu Jogja terkesan biasa- biasa saja, namun pada malam hari lewat jam 9 malam anda akan menjumpai banyak sekali orang berfoto-foto di bangunan yang sudah berumur lebih dari 2 abad ini. Mereka yang datang untuk mengabadikan gambar ini juga berbagai macam, dari mahasiswa yang baru saja di wisuda, wisatawan lokal maupun terkadang wisman manca negara, dari mereka yang berfoto menggunakan kamera ponsel sampai para fotografer lengkap dengan para modelnya. Jadi tidak jarang kita harus antri dulu untuk berfoto di seputaran tugu ini, mengingat keempat sisinya selalu saja berjubel orang yang berebutan untuk berfoto di monumen yang saat tulisan ini dibuat tengah direnovasi.

Baca Selengkapnya….

Older Posts »